Home

MIN’NA MO TOMODACHI JKT*0075* (NAMIDA NO FUKUSHUU, HON NO MUSHI NO KAIKETSU-KOUHEN)

Leave a comment

Penyelidikan kali ini sangat menghebohkan, aku ke kamar mandi gara-gara mereka yang tak tahu malu atas kesalahan mereka setelah sekelompok denganku dengan cara mengubah nama personilnya. Tiba-tiba, suara isak tangis muncul dari luar. Ternyata, itu Avie-senpai! Ketika dia baru saja menghalangi rencana Tomoka dan Ami, mereka mengomelinya dan langsung ditampar wajahnya. Padahal, memukul orang tidak boleh sampai ke muka.

“Astaghfirullahal’adzim … memukul orang nggak boleh dari muka! Kalian ingin seperti mereka, kan? Jangan mengemukakan sikap iri kalian kepada mereka!” omel Jessima-senpai yang tiba-tiba datang, “Lihat keadaan Avie-san!”

“Kau benar! Kalian akan kuambil fotonya dan kuberitahukan kepada mantan adik kelas kalian!” seru Anis-senpai sambil mengambil foto mereka berempat.

Tapi, mereka memasang ekspresi tidak bersalah (Innocent Face) dalam foto tersebut. Setelah itu, insiden tamparan wajah itu sangat menghebohkan hingga mereka berempat menujukkan ekspresi tidak bersalah. Avie-senpai menangis, dia tak bisa mengendalikan hatinya yang tersakiti. Mereka tidak mengetahui bahwa dia memang asli mantan penderita Autis dari usia 1, 5 tahun dan mereka seenaknya membedakan yang biasa dengan yang luar biasa. Avie-senpai bisa mendapatkan peringkat 10 besar atas kekurangannya yang menjadi banyak kelebihan yang dimiliki. Tapi, mengapa ini semua gara-gara mereka?

Aku resah gara-gara mereka, aku memang ceria dan sekarang aku sangat sedih. Tiba-tiba, seseorang datang dan ternyata dia memiliki tinggi yang sama denganku. Apakah dia ingin membela diriku atau … aku harus melihat dengan mataku sendiri atau harus mengatakan padanya tentang masalahku.

“HENTIKAN!” seru seseorang.

“Siapa … ini …?” rintih Avie-senpai.

“Kau …?” gumam Syatila-senpai.

“Ini, kan …?” Virda-senpai penasaran.

Kemudian, identitas seseorang yang membelaku dan Avie-senpai adalah …

“AIDA-CHAN!” seru Avie-senpai lirih.

“Tampaknya kau terlibat masalah, Rushina-chan,” kata Katase Aida Haruka Khairani-senpai. Ternyata sejak tadi dia pindah dari MTS (Madrasah Tsanawiyah atau setingkat SMP) Akimoto Touhoku ke SMP Juunichirou karena sekeluarga harus pindah rumah sejak Tsunami Touhoku tahun kemarin. Masih ada sisa-sisa rumahnya yang  berada di Touhou sejak tsunami tersebut. Dia harus pindah sekolah untuk mengikuti keluarganya yang memutuskan untuk pindah rumah ke Tokyo. Setelah pindah dan termasuk murid kelas VIII Muslimah, dia mengikuti ekskul karate dan PMR.

Ulah mereka ketahuan Asami dan Sakura yang sejak tadi melihatku dengan para JKT*0075*. Mereka bertindak tegas kepada Ami dan Tomoka untuk tidak boleh menghancurkan amanah yang diberikan. Padahal, Asami memberi amanah kepada mereka untuk menjagaku bersama Zakuro. Mereka bukannya menjagaku tetapi mereka mengejekku hingga memaksa kehendak. Tetapi, Sakura sangat tegar dan bisa mengomel mereka ketika merenggangkan amanah dari Asami kepada Zakuro dengan mereka.

Karena sejak kemarin adalah libur nasional, jam pulang kembali dipercepat. Untuk OSIS, seperti biasa mereka rapat sebentar lalu langsung pulang.  Rapat tersebut sangat membantu untuk penyelidikan kasus ini yang disertakan dalam Lomba Penyelidikan Detektif Anak dan Remaja. OSIS memutuskan untuk membuat beberapa rencana dalam penyelidikan. Wawancara sudah, tersangka sudah diambil gambarnya lalu dibagikan ke Facebook milik Arwen-kouhai, dan semua laporan lewat tulisan di enam lembar (karena narasumber wawancara tersebut ada enam) folio bergaris sudah lengkap.

Hari ini sungguh menyebalkan bagiku dan JKT*0075*. Kami begitu diejek mereka pastinya tersakiti, tetapi Avie-senpai harus merelakan air matanya untuk terus menetes. Pembalasan ini dia bisa melakukannya dengan berbagai doa dan cara untuk mengingat Tuhan yang Maha Kuasa. Karena besok libur, dia teringat akan tugas biologi dan Avie-senpai segera menyalakan komputer sekaligus membuka internet untuk mencari artikel tentang pertumbuhan jamur. Dia membuka Facebook miliknya dan menulis sebuah naskah cerita. Kali ini adalah kejadian mengharukan yang pernah terjadi selama ini, tetapi ini yang bisa mengingatkan kita untuk menerapkan toleransi beragama. JKT*0075* Generasi Pertama memang beragama islam, sedangkan kami Shinto. Mengapa mereka tidak menghormati agama mereka dan mengapa mereka mengejek kami? Hanya Tuhan yang mengetahui dari beberapa keluhan Hamba-Nya lewat doa.

Ya Allah … perlihatkanlah dosa mereka, mudahkanlah hamba-Mu ini dalam menghadapi masalah ini …. Avie-senpai tak ada hentinya untuk berdoa setelah sholat Maghrib bersama keluarganya. Air matanya terus menetes ketika ingin mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Apakah menurut kalian doanya dikabulkan, mungkin inilah yang bisa diketahui oleh Tuhan. Karena Islam mengajarkan untuk membedakan antara yang baik dengan yang buruk, seperti halnya agama lain.

Saat itulah dia mengatakan yang sebenarnya pada kedua orangtuanya. Mereka terkejut saat aku sekelompok dengan orang-orang yang tidak kusukai. Mereka kira aku sekelompok dengan JKT*0075* Generasi 2 saat pengumuman kelompok, ternyata bukan. Kemudian Avie-senpai menceritakan seluruh insiden yang kami alami.

“Begini ceritanya, aku telah berusaha untuk menyelesaikannya,” katanya kemudian.

“Jangan pedulikan mereka, anggap saja mereka tidak ada. Mungkin kejahilan mereka adalah mengatakan kebohongan belaka. Ibu tahu info tersebut dari SD Juuichirou yang mengkhawatirkan alumni 2011-2012. Salah seorang guru mengatakan bahwa mereka pernah diberi hukuman gara-gara kasus yang merepotkan Al-Walid,” hibur Murtiningrum-san.

“Dia adalah saudara Khalila, dia tahu kalau Walid bisa menyelesaikan semua masalah di SD Juuichirou,” kata Avie-senpai

MIN’NA MO TOMODACHI JKT*0075* (NAMIDA NO FUKUSHUU, HON NO MUSHI NO KAIKETSU-SENBEN)

Leave a comment

Setelah kami pulang sekolah …

Gawat! Avie-senpai menerima SMS dari Ayumi lewat hanphone Nexian TV miliknya, isinya sungguh menyakitkan hatinya. Dia berusaha sabar karena dia adalah seorang yang bijak dan mau menjaga nasihat dari semua orang.

Image

Karena mulai beberapa hari yang lalu adalah sesi pergantian musim dari musim panas ke musim gugur, udara pun setengah panas dan setengah dingin. Avie-senpai ingin mencuci matanya dengan merasakan udara yang sejuk dalam sesi pergantian musim, tetapi handphone miliknya tetap dipegang untuk membalas SMS tersebut. Sinar matahari pada sore ini sangat menurun dalam sesi pergantian  musim tahun ini, jadi sangat pas untuknya agar bisa berjemur lagi. Buku yang dibawanya selalu dibaca, lalu dia membaca SMS yang barusan dia dapatkan.

Tahu nggak sih? JKT*0075* Generasi Kedua telah kami hancurkan dengan tangan kami sendiri!

Masya Allah … gumam Avie-senpai dalam hati, kemudian dia membalasnya.

Dia nggak sendirian, dia masih bisa bertemu dengan sahabat-sahabatnya. Kalian sendiri yang salah dan sebenarnya kalian iri atau bukan?

Setahuku, dia sangat mengkhawatirkan Generasi Kedua 0075. Menurut Avie-senpai, kebohongan atau fitnah lebih kejam daripada pembunuhan. Halaman demi halaman yang dia baca, buku yang dia baca adalah sebuah novel tentang kisah nyata seorang remaja yang bernama Minamikawa Kanako. Remaja itu berkebutuhan khusus dengan diagnosa Autis seperti dirinya, tetapi banyak sekali kelebihan di tengah ejekan teman-temannya. Dia adalah seorang murid baru di sebuah SMP di Hokkaido setelah lulus dari sebuah SD luar biasa yang tepat berada di situ juga. Dia hanya memiliki enam orang sahabat yang selalu setia menemaninya, menghiburnya, dan menasihatinya apapun yang terjadi.

Nama mereka adalah Tomomi, Shizumi, Kanae, Aki, Risa, dan Minami. Tiga dari mereka sama-sama memiliki yayasan untuk orang-orang yang berkebutuhan khusus. Kemudian, Kanako bertemu dengan seorang siswa yang senasib dengannya, Yuuya dan menyukainya secara rahasia. Kisah persahabatan ini harus menjadi contoh untuk semua orang agar bisa menghargai kelebihan dan kekurangan teman maupun sahabat. Apalagi dalam menyelesaikan masalah kami, dia harus tegar.

Saat dia diejek, dia tidak menghiraukan para musuh terbesarnya. Yuuya pun begitu, dia menyimpan rahasia itu dan memberi kepercayaan kepada sahabatnya, Masao untuk menjaga rahasia tersebut. Aku sudah membacanya lewat E-Book dan ceritanya sangat menyentuh hatiku. Pasti akhir ceritanya sangat mengharukan dan menyentuh, pastinya Kanako dan Minami akan bersama dalam satu SMA serta Kanako sering menjadi murid berprestasi dalam setiap kelas. Lebih menyedihkan lagi, Masao divonis terkena leukemia ketika pingsan saat mengerjakan kegiatan terakhir kelas IX. Dua minggu kemudian di rumah sakit, Masao meninggal dan Yuuya harus merelakan kehilangan sahabatnya.

Avie-senpai baru membaca sampai bagian Yuuya bertemu dengan Kanako karena novel tersebut berjumlah 190 halaman tebalnya. Setahu dirinya, dia bisa mengungkapkan rahasia tersebut pada orang-orang yang bisa dia percayakan. Rumahnya tidak tingkat, tetapi lumayan untuk berjemur di bawah matahari meskipun menjelang musim gugur. Masalah itu menghayati adegan persahabatan Kanako dan keenam sahabat dekatnya, tetapi masalahku lebih heboh lagi.

Jam telah menunjukkan pukul 16.38 sore, dia segera mandi atau badannya tetap bau. Setelah mandi, dia menyelesaikan PR-nya sekaligus mengulang pelajaran yang tadi dan mempersiapkan buku-buku untuk besok. Saat adzan Maghrib berkumandang, dia bersama keluarganya langsung melaksanakan ibadah Sholat Maghrib. Sementara itu di rumahku, aku selalu teringat terhadap kebaikan Avie-senpai ketika aku tertidur.

Karena dia sedang diet karena berat badannya yang semakin bertambah, dia memutuskan untuk makan malam dengan porsi kecil.  Setelah makan malam, dia bersama keluarganya segera melaksanakan Sholat Isya dan setelah itu mereka tidur. Dalam tidurnya, Avie-senpai berharap agar masalahku cepat selesai. Mungkin, dia akan bangun untuk melaksanakan Sholat Malam. Dia ingin berdoa untuk meminta kemudahan dalam menuntut ilmu di tengah terlibatnya 0075 dalam masalah.

Selasa, 18 September 2012, 01.59:

“Bapak, Ibu … bangun! Tahajjud,” seru Avie-senpai sambil membangunkan kedua orangtuanya.

“Nee-san … Ibu masih mengantuk, kamu wudhu duluan saja …,” kata ibunya, Endah Murtiningrum-san.

“Baiklah, nee-san …,” kata Widodo-san.

Setelah semuanya bangun, mereka melaksanakan sholat tahajjud secara berjama’ah dan diakhiri dengan witir tiga raka’at. Mereka sholat dengan jumlah 8 raka’at agar mereka bisa tidur lagi.  Avie-senpai membutuhkan waktu 3 menit untuk berdoa, dalam doanya dia berharap untuk memberi jalan penyelesaian masalah ini.

Ya Allah … bantulah Hamba-Mu ini untuk menyelesaikan masalah yang makin parah, lapangkan dadaku, dan ampunilah mereka. Tunjukkilah mereka jalan yang benar, agar Hamba-Mu bisa menyelesaikan masalah ini. Ya Allah, Ya Rabbii … bantulah Hamba-Mu ….  Ampunilah dosaku, dosa orangtuaku, dan dosa Hamba-Hamba-Mu yang lainnya … dalam doanya Avie-senpai terus berharap dalam hatinya hingga sadar bahwa setelah itu dia tertidur.

Setelah adzan Subuh berkumandang dan terdengar sampai ke lingkungan rumahnya, dia terbangun dan langsung berwudhu. Mereka langsung mengerjakan Sholat Subuh berjama’ah, setelah itu mereka langsung beraktifitas. Satu setengah jam kemudian, Avie-senpai dengan Arwen-kouhai segera berangkat ke sekolah dengan diantar oleh Widodo-san. Sesampainya di sekolah, dia bertemu denganku dan Asami sambil mengobrol tentang soal kemarin. Tampaknya, wajahku masih saja murung gara-gara insiden kemarin. Ketika bel berbunyi, semua masuk ke dalam kelas masing-masing.

Kami segera mengikuti pelajaran hari ini dengan sempurna tanpa ada halangan, tetapi sekarang Fuji tidak masuk karena mengalami demam tinggi. Perasaanku tambah tidak enak, apalagi tanpa Fuji. Aku dan Ruu-chan membicarakan masalah yang kemarin ketika kami mengobrol saat tidak ada guru. Sementara itu di kelas VIII Muslimah, pelajaran Bahasa Arab berlangsung dengan lancar dan PR mereka sudah dikerjakan semua. Saat pengumuman nilai ulangan yang telah terlaksanakan sejak minggu kemarin, tidak ada satupun siswi yang remedial. Setelah pelajaran Bahasa Arab selesai, Avie-senpai ditemani Jessima-senpai segera mencari dan memanggil Mizusawa Muhammad Hiromu-sensei yang merupakan guru Bahasa Jepang kelas Muslim dan Muslimah.

“Assalamu’alaikum, selamat pagi …,” seru Avie-senpai.

“Wa’alaikumsalam … Rushina-san dan Pratiwi-san!” kata Mizusawa-sensei sambil mengambil perlengkapan untuk mengajar di kelas mereka.

“Hari ini ada jadwal untuk Bapak,” kata Jessima-senpai.

“Oh iya … tampaknya saya sampai teringat bel gara-gara saya dipanggil oleh Panitia Lomba Dance Cover,” kata Mizusawa-sensei.

“Masalah apa?” tanya Jessima-senpai sambil berjalan bersama mereka ke kelas.

“Masalah yang kemarin, seharusnya kelas VII-5 sempurna tetapi ada yang menggugat keputusan anggota kelompok. Kemudian, panitia menyerah dan langsung melaksanakannya. Sangat dikasihani untuk Generasi Kedua kelompok persahabatan oleh Rushina-san,” kata Mizusawa-sensei.

“Benar juga, kita harus menyelesaikannya,” kata Avie-senpai.

Kemudian, mereka semua masuk kedalam kelas. Pelajaran Bahasa Jepang dimulai dengan doa terlebih dahulu. Pelajaran di kelas tersebut tentang drama. Seru sekali, naskahnya sederhana saja dan dimainkan oleh semua yang dibagi enam orang. Avie-senpai kembali sekelompok dengan JKT*0075*. Oh iya, naskah tersebut dari buku pelajaran dan ada perintah untuk membuat kelompok 6 orang agar bisa memainkan drama dari naskah tersebut. Drama yang ditampilkan berjudul ‘Kebaikan dalam Sebuah Insiden’. Ceritanya tentang seorang anak yang terlibat sebagai korban dalam bullying. Kemudian dua orang sahabat yang termasuk kutu buku dan anggota Pramuka menolongnya tetapi pelakunya malah memaksa mereka untuk jangan menolong mereka.

Akhirnya, pelakunya sadar atas kesalahannya. Dia meminta maaf kepada korban insiden tersebut dan memutuskan untuk menjadi sahabat selamanya. Seru sekali hingga semua siswi Kelas VIII Muslimah tak bisa melupakan kenangan itu. PR kali ini adalah menjawab pertanyaan dalam soal halaman 25 di buku tulis. Sementara itu di kelasku, kebetulan sedang pelajaran BK. Aku mengadukan semua masalahku kepada Fujimura Nanao-sensei, guru BK kelas VII, tetapi Ayumi banyak menghalangiku dalam berbagai bagian pengaduan.

Semoga saja ini membuatku lega dengan solusi dari Fujimura-sensei. Asami setuju dengan apa yang aku katakan pada Fujimura-sensei. Fujimura-sensei adalah guru BK yang paling disukai oleh muridnya karena lebih enak untuk mengadu masalah kami. Dia mengetahui semua yang kami sukai, tetapi dia sering memberikan pengarahan yang hebat kepada kami. Dia tahu, aku dan Zakuro memang memiliki kesukaan yang berbeda dari mereka berempat, tetapi tetap saja mereka memaksa diriku.

Aku memang tak bisa membiarkan diriku agar bisa mengikuti paksaan itu, aku tak bisa menerima kejadian sebenarnya tanpa sahabatku. Ternyata, bersahabat bukan berarti bisa bersama tetapi harus menerima apa adanya. Meskipun aku tak mau mereka menjahiliku, aku harus berusaha untuk menerima apa adanya. Kemudian, bel menunjukkan waktu istirahat Sholat dan makan. Kami segera ke kafetaria sedangkan murid kelas Muslim serta Muslimah segera ke musholla untuk sholat kecuali siswi yang berhalangan. Tiba-tiba …

“Aduh!” seru Avie-senpai kesakitan ketika terjatuh.

“Ya Allah … lain kali kamu harus hati-hati, Avie-chan,” kata Arini-senpai.

“Terima kasih …,” kata Avie-senpai, “Aku bukannya terjatuh melainkan terpeleset kulit ini, aduh!”

“Masih sakit?” tanya Anis-senpai penuh kasihan.

“Pasti kulit pisang!” seru Jessima-senpai menghampiri mereka, “Kamu kan, ternyata juga ikut lomba Detektif Anak dan Remaja antar Pulau Honshu. Masukkan saja dalam ulah pelaku.”

“Baiklah! Aku akan melaporkan hal ini ke Arwen-kouhai!” seru Anis-senpai.

“Jangan dilapor kepada anak kecil itu, Senpai!” seru Ami menghalangi.

“Ami-kouhai! Awas kau!” seru Syatila-senpai.

Kaki kanan Avie-senpai terlihat sakit di bagian paha. Dia masih mampu berjalan dengan tenang dan kemudian mereka berenam segera ke musholla untuk sholat Zuhur. Ketika mereka sholat kecuali Anis-senpai yang segera ke kafetaria untuk makan siang. Kemudian, dia memutuskan untuk duduk di sebelahku.

“Kenapa lagi …?” tanya Anis-senpai.

“Aku mau mengadu kepada Fujimura-sensei, tetapi aku banyak dihalangi Ayumi agar tidak membicarakan masalah kelompok kepada siapa saja. Terus, aku ingin menamparnya tapi gagal … setelah itu aku disuruh berpura-pura tidak tahu oleh Eri …,” isakku.

“Terus, apa yang kamu lakukan pada saat itu?” tanya Anis-senpai.

“Aku mencoba untuk menasihati mereka agar tidak menggangguku dalam pengaduan masalah kepada BK. Lalu, mereka mengatakan dengan bawel bahwa mereka tak mau dijadikan gosip yang menyebar di sekolah ini …,” jawabku tersendat-sendat.

“Astaghfirullahal’adzim … mereka benar-benar menakutimu hal ini untuk dijadikan gosip …,” kata Anis-senpai.

“Benar, mereka memang begitu setelah keinginan mereka terkabulkan,” kataku.

Tiba-tiba, Tomoka datang sambil menguping pembicaraan kami. Dia menampar Anis-senpai ketika mengambil lembar penyelidikan. Betapa menyakitkan, dia menyuruh Anis-senpai untuk melihat kertas tersebut padahal dirahasiakan untuk lomba bulan November atau Desember nanti. Dia bersama Arwen-kouhai membuatnya karena menurut penilaian, akan diperiksa kelengkapan kasus yang diselidiki.

“Aduh, sakit! Jangan diambil!” omel Anis-senpai.

“Awas kau!” omelku.

“Cengeng, kan? Kamu berat banget kalau kerjasama dengan kita!” ejek Tomoka kepadaku, “*0075* Jelek!”

“Jelek apanya? Meskipun terbaik, kami juga manusia! Punya dosa dan salah!” seruku sambil menangis.

Sesaat kemudian …

“ADA APA INI?” teriak Avie-senpai dan Syatila-senpai kompak.

“Eh … Avie-chan, Tila-chan, sejak aku dan Ai-kouhai mengobrol ada Rurichiyo-kouhai menguping sambil memaksa untuk melihat kertas penyelidikan yang kupegang,” kata Anis-senpai.

“Terus?” kata Syatila-senpai terkejut.

“Lihat saja, Ai-kouhai menangis sampai lari ke kamar mandi perempuan. Dia tak mau Daiichirou-kouhai dan teman-teman menyakitinya terus,” jawab Anis-senpai.

“Kita harus mendatanginya!” seru Avie-senpai, “Lalu kita laporkan ke Fujimura-sensei!”

“Baiklah, kasihan Kouhai!” kata Arini-senpai.

Kemudian, mereka berenam langsung ke toilet dan tiba-tiba Avie-senpai ingin buang air kecil. Setelah itu, dia bersama teman-temannya langsung berbicara denganku. Anis-senpai mencatat keadaan korban dalam kasus yang menimpa grup persahabatan populer di sekolah kami, JKT*0075*. Setahuku, mereka sangat manja dan egois. Mereka iri hati dengan kebaikan *0075*. Setelah itu, mereka melaporkan kejadian ini kepada Fujimura-sensei. Anis-senpai segera mencatat isi laporan kasus dengan kegiatan penyelesaiannya. Lembaran tersebut dikumpulkan paling lambat hari Jum’at tanggal 30 November sampai 5 Desember nanti.

MIN’NA MO TOMODACHI JKT*0075* (KHOIRUNNISAH TO ARWEN NO MENSETSU JIKAN)

Leave a comment

Tiba-tiba, rapat OSIS selesai lalu Avie-senpai segera memasuki aula untuk melihat pertengkaran kami. Perdebatan kami cukup banyak amarah yang harus kami tahan selama ini.

“HENTIKAN!” seru Anis-senpai dan Arwen-kouhai kompak, “Ini rapat atau mau berantem?”

“Ada apa ini?” tanya Avie-senpai sambil membuka pintu dengan kencang ketika membaca buku.

“Nggak … nggak apa-apa, kok …,” kata Eri menutupi kesalahannya dengan Ami, Ayumi, dan Tomoka.

“Jawab yang jujur, sebenarnya ada apa?” omel Arini-senpai.

“Biar aku yang menjelaskan semuanya!” seru Zakuro.

“Jangan dibilang, Zakuro … kita mau mengerjai mereka,” tolak Eri.

“Watanabe! Jangan menghalangi Momohara agar bisa berbicara dengan kami!” seru Jessima-senpai.

“Begini, kami sedang rapat untuk memikirkan lagu yang akan dibuat cover. Tetapi, aku dan Ai sebagai penggemar musik asli Jepang ini digugat oleh para TWIBI yang kamu sebutkan nama mereka,” jelas Zakuro.

Ketika pertengkaran langsung dihentikan, untung saja Arini-senpai dan Jessima Pratiwi-senpai, wakil OSIS SMP Juunichirou telah mendengar suara kami ketika rapat OSIS berlangsung. Avie-senpai terus memberikan beberapa pencerahan kepada kami agar menjadi kelompok yang mau bekerjasama. Mereka siap untuk mencari solusi agar bisa membantu kami semua. Dan juga, Avie-senpai memang luar biasa tetapi bisa memberikan solusi kepada sahabatnya yang terkena masalah apapun termasuk masalah ini.

“Ai-kouhai, menurutku kau harus mengetahui hal ini. Kita memang susah untuk bekerjasama dengan orang-orang yang tidak disukai, apalagi pada masa sekolah seperti sekarang dalam soal kerja kelompok. Mereka adalah mantan kakak kelas adikku yang terkenal sangat menyebalkan dan sering menyebarkan surat kaleng ke mana-mana sehingga korbannya merasa sakit hati setelah membacanya. Aku mengetahui cerita ini dari seorang teman sejak Tahun Ajaran 2011-2012 lalu,” kata Avie-senpai menasihatiku sekaligus memberi solusi.

“Kamu telah memutuskan untuk pindah ke kelompok sahabatmu agar Kurokawa Aikiko-kouhai bisa bertukar denganmu. Hanya saja, kamu harus mengatakan pernyataan untuk bertukar kelompok agat dirimu bisa enak,” jelas Jessima-senpai.

Tetapi, pembicaraan kami langsung didengar oleh Ayumi dan Tomoka ketika mereka baru saja menguping pembicaraan kami. Justru mereka yang salah, mereka langsung menutup kesalahan tersebut dari tadi. Tampaknya, mereka ingin membawa kami agar bisa bersama mereka untuk berbagi tentang CherryBelle. Sementara itu, Arwen-kouhai dan Anis-senpai segera menyiapkan beberapa pertanyaan dalam 6 lembar folio bergaris untuk mewawancarai para saksi yang mengetahui kasus kami.

Mereka tidak putus asa dalam membantu kami, mereka memutuskan untuk mewawancarai pembina OSIS kami terlebih dahulu, Maeda Sashiko-sensei. Sebelum itu, mereka memasuki ruang OSIS secara sopan ketika bertemu dengan Maeda-sensei. Di dalam ruang OSIS yang temboknya bercat warna-warni, mereka segera menghampiri Maeda-sensei yang baru saja mengetik dokumen para pengurus OSIS tahun ini. Apalagi, temboknya dihiasi berbagai hiasan buatan mereka sendiri dan sangat bagus. Jangan salah, yang membuat semua ini adalah Risa karena dia pintar menggambar.

“Oh, Parwati-san. Yang di sebelahmu itu siapa?” tanya Maeda-sensei.

“Perkenalkan, nama saya Arwen Ramadhani. Kelas III SD Juuichirou RSBI Tokyo, lahir di Tokyo pada tanggal 23 November 2003. Saya di sini bersama Anis-senpai untuk mewawancarai Sensei tentang kejadian yang menghebohkan 0075,” kata Arwen-kouhai sambil memperkenalkan diri.

“Ramadhani-san, siswi SD Juuichirou yang unggulan itu?” kata Maeda-sensei penasaran.

“Iya, sekolah tersebut hebat hingga prestasinya bagus di bidang Bahasa Inggris,” kata Anis-senpai, “Untuk mempersingkat waktu, kita mulai wawancara saja.”

Kemudian, wawancara dimulai dengan menyiapkan kertas-kertas folio yang berisi pertanyaan yang akan diberikan kepada Maeda-sensei. Sesaat kemudian, Eri dan Tomoka segera menguping wawancara tersebut. Untung mereka berhasil dibawa keluar oleh Anis-senpai agar wawancara berlangsung lancar. Karena kertas folio tersebut ada enam lembar, yang mereka wawancarai adalah Maeda-sensei seperti sekarang, Kishida Wataru yang merupakan ketua OSIS yang baru dari kelas VIII-2, Fujimura Nanao-sensei yang merupakan guru BK kami, Sakurai Daisuke-sensei yang merupakan wali kelas kami, Itano Erika-senpai yang merupakan mantan ketua OSIS dari kelas IX-1, dan Otani Sakura Aulia-senpai dari kelas IX Muslimah yang merupakan mantan Seksi Keamanan OSIS.

“Sejak kapan Sensei melihat kasus ini? Bagaimana kasus itu bisa Sensei ketahui?” tanya Arwen-kouhai untuk memulai wawancara.

“Masalah ini Ibu tahu sejak Pak Daiichirou meminta kepada Minamino-sensei untuk mengganti personil secara paksa. Kami menyerah dan langsung memutuskannya, tiba-tiba Ibu jadi merasa bersalah atas masalah itu,” jawab Maeda-sensei.

“Wah … galak sekali, anak dan ayahnya sama-sama manja. Astaghfirullah …,” gumam Anis-senpai sambil mencatat jawaban dari Maeda-sensei.

“Bagaimana cara Sensei agar bisa memberi teguran kepada Daiichirou Kouji-san?” tanya Arwen-kouhai.

“Ibu memberikan teguran pertama berupa larangan untuk menggugat keputusan selama pembagian kelompok berdasarkan hasil rapat panitia. Kedua, Ibu menegur lagi karena dia membuat alasan. Ketiga, para panitia menyerah gara-gara paksaan kehendak yang dia berikan,” jawab Maeda-sensei menjelaskan.

Kemudian, Anis-senpai segera mencatat jawaban tersebut. Lalu, mereka melanjutkan ke pertanyaan selanjutnya dalam wawancara kali ini.

“Mengapa Daiichirou-san bisa memaksakan kehendaknya? Apakah Sensei memberikan teguran maupun hukuman kepadanya?” tanya Arwen-kouhai.

“Karena dia iri terhadap kalian para JKT*0075*. Generasi Kedua termasuk Ryuushirou-san memang harus dikasihani gara-gara masalah besar ini. Ibu memberikan teguran kepadanya, jika dia memaksa lagi dengan kelompoknya, Sakurai-sensei harus membawanya ke BK untuk dimintai keterangan bersama sahabat yang mengusahakan rencana itu,” jawab Maeda-sensei panjang lebar.

Anis-senpai sangat bersemangat untuk membantu Arwen-kouhai karena dia mewakili SD Juuichirou RSBI untuk mengikuti lomba wawancara tentang ‘Persahabatan dan Kelompok Kerja’ antar Prefektur. Untung saja, Anis-senpai didaftarkan oleh Mamoru Souta-sensei, ketua kurikulum sekolah kami.

“Lalu, sejak kapan Sensei menduduki jabatan di sini?” tanya Arwen-kouhai.

“Sejak 1998, Ibu menjabat sebagai guru BK. Karena ketulusan Ibu, Ibu jadi pembina OSIS sejak tahun lalu sampai sekarang. Dulu, Ibu banyak sekali layanan dari beberapa murid dan orangtua terhadap masalah. Untung ada kalian, kalian suka membantu sejak kelompok persahabatan ini terbentuk secara sempurna,” jawab Maeda-sensei.

Anis-senpai tahu bahwa Maeda-sensei adalah mantan guru BK sekolah kami. Banyak layanan dari beberapa murid yang terlibat masalah apapun. Kami sering berbicara dengan Maeda-sensei soal OSIS. Aku suka dengan Maeda-sensei karena kebaikannya.

“Jawaban yang hebat, Sensei!” gumam Anis-senpai sambil mencatat jawaban.

“Apa menurut Sensei tentang persahabatan kami dan Ryuushirou-senpai?” tanya Arwen-kouhai.

“Persahabatan kalian terjalin erat sejak pertama kali bertemu di SMP Juunichirou ini. Apalagi, ada Generasi 0075 yang kalian bisa bantu. Kasihan Ryuushirou-san, dia bukannya sekelompok dengan Oribe-san dan teman-teman tetapi dengan Daiichirou-san. Dia sudah berjuang keras agar bisa bersama lagi dengan Generasi Kedua kelompok persahabatan kalian, tetapi digagalkan oleh mereka yang Ibu juga kecewakan,” jawab Maeda-sensei.

“Mengapa Sensei dan semua guru BK mengerti terhadap persahabatan kami dan Generasi Kedua 0075?” tanya Arwen-kouhai kemudian.

“Karena BK sangat mengetahui tentang sifat murid yang ada di sini. Apalagi masalah besar yang dialami oleh Ryuushirou-san dan teman-temannya. Tolong katakan kepadanya, susah sekali untuk bekerjasama dengan orang yang tidak kita sukai. Apalagi di masa sekolah,” jawab Maeda-sensei.

“Baiklah, Sensei! Semoga wawancara ini bermanfaat!” kata Anis-senpai sambil mencatat jawaban yang tadi.

Akhirnya, wawancara selesai dan mereka harus berwawancara dengan Wataru-senpai. Wawancara dengan Wataru-senpai sangat enak dengan jawabannya yang berasal dari kejadian sebenarnya tentang kasus kami. Sedangkan dengan yang lainnya, santai sekali dengan jawaban yang hebat. Mereka sangat hebat dan dukunglah mereka sebagai anggota wartawan sekokah! Jangan salah, mereka mengikuti Lomba Penyelidikan Kasus oleh Detektif Anak dan Remaja. Anis-senpai didaftarkan oleh Mamoru-sensei sedangkan Arwen-kouhai didaftarkan oleh wali kelasnya, Tanaka Aki-sensei.

Min’na mo Tomodachi JKT *0075* (SORE WA NAZE ITSUMO WATASHI DESUKA …?)

Leave a comment

Setelah perdebatan selesai dan ternyata mereka berdua belum menemukan bukti yang jelas tentang hal ini, aku sangat kecewa sambil melihat gambar yang selalu kubawa.

Image

Seandainya aku bisa seperti mereka, aku dan sahabatku bisa bersatu lagi, gumamku dalam hati. Padahal, semua kelompok harus bekerjasama untuk menampilkan ‘Dance Cover’ yang paling bagus sepanjang sejarah sekolah kami. Kecuali kami, aku dan Zakuro dikecewakan oleh Ayumi, Eri, Ami, dan Tomoka yang kebetulan TWIBI. Aku ingin pindah dan menikmati persahabatanku dengan 0075 Generasi Kedua. Aku tak bisa seperti Avie-senpai yang enak untuk diajak curhat oleh siswi sekolah.

Tiba-tiba saat aku mulai berjalan pulang, Tomoka memanggilku agar dia bisa memberikan tugas untukku. Aku segera duduk di dalam aula untuk mendengarkannya.

“Hari ini ada tugas sekolah?” tanyaku.

“Banyak sekali,” jawab Ami.

“Aku sudah menyelesaikan sebagian di kelas, sisanya aku kerjakan di rumah. Jadinya enak,” kataku.

“Lho, kok begitu?” ujar Eri, “Kalau kita, pagi-pagi kita datang untuk melihat pekerjaan kita masing-masing!”

“Itu namanya menyontek!” seru Arwen-kouhai dan Anis-senpai sambil membuka pintu.

“Maksud kalian?” protes Ayumi.

“Yang telah menyontek enak, sedangkan korbannya dirugikan! Mengerti?” seru Arwen-kouhai.

“Waktu mengerjakan tugas, kami bertanya kepada murid kelas kami yang pintar tentang jawabannya. Tapi dia hanya menjawab sedikit …,” kata Ami.

Perdebatan tetap saja terjadi, bahkan Arwen-kouhai dibantu Anis-senpai telah berusaha untuk melerai kami dan membagi-bagikan tugas yang pas untuk kami. Aku pikir, mereka tidak menghargai pendapat mereka dan juga pendapatku. Kemudian, pikiranku terbebani dalam masalah ini hingga Avie-senpai memanggilku untuk berbicara sebentar tentang persoalan ini.

Min’na mo Tomodachi JKT*0075* (WATASHI WA CHERRYBELLE WA SUKIDE GA ARIMASEN!)

Leave a comment

CherryBelle adalah Girl-band yang tidak aku sukai. Zakuro ingin sekali lagu ‘Kanpekigu no Ne’ dari Watarirouka Hashiritai sedangkan aku ingin sekali lagu ‘Ready!’ dari OST IDOLM@STER (baca: Idol Master). Ketika aku dan Zakuro sama-sama menolak, mereka tetap memaksa kami berdua agar menjadi Twibi (istilah penggemar CherryBelle khusus perempuan). Padahal, setiap orang memang berbeda dari pikiran dan pendapat.

“Masya Allah, Senpai! Mereka memaksa Ryuushirou-senpai dan Momohara-senpai agar menjadi Twibi!” seru Arwen-kouhai.

“Masa, sih?” kata Anis-senpai sambil menyiapkan kamera Syatila-senpai untuk merekam.

“Benar, rekam saja! Ketika kita ingin melihat bagaimana aksinya, pasti ketahuan perilaku buruk mereka. Yaitu memaksa orang supaya suka dengan kesukaan mereka!” seru Arwen-kouhai.

“OK! Kau yang menasihati mereka, Kouhai!” kata Anis-senpai sambil memilih ‘record’ untuk merekam.

Ketika aksi dimulai, kami mulai berdebat soal pendapat tentang CherryBelle dibandingkan IDOLM@STER dan Watarirouka Hashiritai. Ketika berdebat tentang persoalan ini, mereka sangat kuat dalam memberitahukan soal CherryBelle dan lagu-lagunya. Padahal, aku tidak suka! Walaupun begitu, mau tak mau aku harus menerimanya.

“Watarirouka … jadi TWIBI, dong!” omel Eri kepada Zakuro.

“Memangnya kenapa? Terserah aku dan Ai, dong!” protes Zakuro.

“Singkatannya ChiBi, tapi sebenarnya Chibi yang asli adalah Chibi dari Anime. Aku memutuskan untuk pindah!” seruku menyerah.

“Pindah ke mana? Bersama kita saja, kita bisa berbagi info CherryBelle …,” kata Ami.

“Ke 0075 Generasi Kedua!” jawabku tegas.

Tiba-tiba …

“HENTIKAN!” seru Arwen-kouhai.

“Ramadhani-kouhai, berani sekali dirimu! Anggota 0075 Generasi Pertama termuda, tetapi selalu menghalangi TWIBI GIRLS GANG dalam hal kecurangan!” omel Tomoka.

“Ya Allah … 0075 bertujuan untuk menolong semua orang, seperti yang ada di dalam talkshow unggulan kami!” seru Anis-senpai.

“Khoirunnisah-senpai!” kata Zakuro, “Tampaknya memaksa sekali gara-gara masalah Girl-band CherryBelle.”

“APA?” seru Anis-senpai.

Sangat parah, perasaanku tambah tidak enak gara-gara mereka. Aku yang menyukai AKB48 dan IDOLM@STER dan Zakuro yang menyukai Watarirouka Hashiritai malah dipaksa menjadi penggemar CherryBelle sejati. Menurut pelajaran PKN, ini melanggar HAM karena memaksa kehendak orang yang memiliki pendapat lain dengannya. Sebab itulah aku melihat ulangan PKN mereka yang dibawah KKM. Nilai KKM untuk PKN kelas VII adalah 75.

Kasihan Anis-senpai dan Arwen-kouhai yang telah berusaha untuk menyelidiki keadaan kami, mereka harus sabar menghadapi kemarahan mereka gara-gara masalahku dan Zakuro. Mereka sangat aktif jika ingin membantu semua orang yang terkena masalah apapun. Apalagi membantu sahabat mereka sendiri yang terkena masalah yang tak bisa ditanggung lagi.

Sebenarnya, aku harus mengerti tentang sikap mereka. Yang hanya kumengerti adalah kesombongan mereka dengan berbagai alasan yang berada dalam pikiran mereka sendiri. Sedangkan Zakuro orangnya sangat netral dalam urusan kelompok, walaupun sangat baik padaku. Ternyata, mereka sebenarnya adalah anggota gang yang sombong sejak SD. Arwen-kouhai bersama dengan Trisya Febina-kouhai alias Icha, sahabatnya telah mengetahui hal itu sejak pertama kali bertemu mereka.

Sekali lagi aku katakan, AKU TIDAK SUKA CHERRY BELLE!

Smile Precure ~ Yay! Yay! Yay! Full Dance HD

Leave a comment

Smile Precure ~ Yay! Yay! Yay! Full Dance HD

This is interesting, isn’t it? This is the first song used by 0075 for cover the dances. However, according to Kanae it’s really touching to the 50 points because it’s a nice song

 

 

 

 

【PV】 RIVER / AKB48 [公式]

Leave a comment

【PV】 RIVER / AKB48 [公式]

This is the one of the song for Dance Cover Competition in Juunichi Junior High School 12. Cover is a something fan-made from the special ones. So, the JKT*0075* cover this song from the dance moves.

Older Entries